I. PEMAKAIAN HURUF

Posted: June 6, 2012 in Uncategorized

A. Huruf Abjad

Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama tiap huruf disertakan di kolom ketiga.

Huruf

Nama 

Kapital 

Kecil 

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z

a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z

a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet

B. Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.

Huruf
Vokal

Contoh Pemakaian dalam Kata 

Posisi Awal 

Posisi Tengah 

Posisi Akhir 

a
e*

i
o
u

api
enak
emas
itu
oleh
ulang

padi
petak
kena
simpan
kota
bumi

lusa
sore
tipe
murni
radio
ibu

Keterangan:

*

Untuk keperluan pelafalan kata yang benar, tanda aksen (ˊ) dapat digunakan jika ejaan kata menimbulkan keraguan. 

 

Misalnya: 

 

Anak-anak bermain di teras (téras).

 

Upacara itu dihadiri pejabat teras Bank Indonesia.

 

Kami menonton film seri (séri).

 

Pertandingan itu berakhir seri.

 

Di mana kécap itu dibuat?

 

Coba kecap dulu makanan itu.

C. Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata 

Posisi Awal 

Posisi Tengah 

Posisi Akhir 

b
c
d
f
g
h
j
k

l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z

bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami

lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xerox
yakin
zeni

sebut
kaca
ada
kafan
tiga
saham
manja
paksa
rakyat*
alas
kami
tanah
apa
status quo
bara
asli
mata
lava
hawa

payung
lazim

adab

Abad
maaf
gudeg
tuah
mikraj
politik
bapak*
akal
diam
daun
siap
Taufiq
putar
tangkas
rapat


sinar-x

juz

Keterangan:

* 

Huruf k melambangkan bunyi hamzah.

** 

Huruf q dan x khusus dipakai untuk nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan keperluan ilmu (seperti status quo dan sinar x).

D. Huruf Diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf
Diftong

Contoh Pemakaian dalam Kata 

Posisi Awal 

Posisi Tengah 

Posisi Akhir 

ai
au
oi

ain
aula

malaikat
saudara
boikot

pandai
harimau
amboi

E. Gabungan Huruf Konsonan

Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing masing melambangkan satu bunyi konsonan.

Gabungan
Huruf
Konsonan

Contoh Pemakaian dalam Kata 

Posisi Awal 

Posisi Tengah 

Posisi Akhir 

kh
ng
ny
sy

khusus
ngilu
nyata
syarat

akhir
bangun
banyak
isyarat

tarikh
senang

arasy

Catatan:

Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain ditulis sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.

F. Huruf Kapital

1. 

Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. 

 

Misalnya:

Dia membaca buku.

Apa maksudnya?

Kita harus bekerja keras.

Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. 

 

Misalnya:

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”

Kemarin engkau terlambat,” katanya.

Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat.”

3. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan. 

 

Misalnya:

Islam

Quran

Kristen

Alkitab

Hindu

Weda

Allah

Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

 

Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

   

Misalnya:

Mahaputra Yamin

Sultan Hasanuddin

Haji Agus Salim

Imam Syafii

Nabi Ibrahim

 

b. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

   

Misalnya:

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Pada tahun ini dia pergi naik haji.

Ilmunya belum seberapa, tetapi lagaknya sudah seperti kiai.

5. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.

   

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik

Perdana Menteri Nehru

Profesor Supomo

Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian

Gubernur Jawa Tengah

 

b. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya. 

   

Misalnya:

Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.

Sidang itu dipimpin Presiden.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen.

 

c. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.

   

Misalnya:

Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?

Devisi itu dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

Di setiap departemen terdapat seorang inspektur jenderal.

6. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang. 

   

Misalnya:

Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

Halim Perdanakusumah

Ampere

   

Catatan: 

 

(1) 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).

   

Misalnya:

J.J de Hollander

J.P. van Bruggen

H. van der Giessen

Otto von Bismarck

Vasco da Gama

 

(2) 

Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata bin atau binti. 

   

Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini

Ibrahim bin Adham

Siti Fatimah binti Salim

Zaitun binti Zainal

 

b. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. 

   

Misalnya:

pascal second 

Pas 

J/K atau JK-1

joule per Kelvin 

N 

Newton 

 

c. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. 

   

Misalnya:

mesin diesel

10 volt

5 ampere

7. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. 

   

Misalnya:

bangsa Eskimo

suku Sunda

bahasa Indonesia

 

b. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan. 

   

Misalnya:

pengindonesiaan kata asing

keinggris-inggrisan

kejawa-jawaan

8. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya. 

   

Misalnya:

tahun Hijriah

tarikh Masehi

bulan Agustus

bulan Maulid

hari Jumat

hari Galungan

hari Lebaran

hari Natal

 

b. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.

   

Misalnya:

Perang Candu

Perang Dunia I

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

c. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama. 

   

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi. 

   

Misalnya:

Banyuwangi

Asia Tenggara

Cirebon

Amerika Serikat

Eropa

Jawa Barat

 

b. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi. 

   

Misalnya:

Bukit Barisan

Danau Toba

Dataran Tinggi Dieng

Gunung Semeru

Jalan Diponegoro

Jazirah Arab

Ngarai Sianok

Lembah Baliem

Selat Lombok

Pegunungan Jayawijaya

Sungai Musi

Tanjung Harapan

Teluk Benggala

Terusan Suez

 

c. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya. 

   

Misalnya:

ukiran Jepara

pempek Palembang

tari Melayu

sarung Mandar

asinan Bogor

sate Mak Ajad

 

d. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi. 

   

Misalnya:

berlayar ke teluk

mandi di sungai

menyeberangi selat

berenang di danau

 

e. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis. 

   

Misalnya:

nangka belanda

kunci inggris

petai cina

pisang ambon

10. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.

   

Misalnya: 

   

Republik Indonesia

Departemen Keuangan

Majelis Permusyawaratan Rakyat

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1972

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak

 

b. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.

   

Misalnya:

beberapa badan hukum

kerja sama antara pemerintah dan rakyat

menjadi sebuah republik

menurut undang-undang yang berlaku

   

Catatan:

Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.

   

Misalnya:

Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.

Tahun ini Departemen sedang menelaah masalah itu.

Surat itu telah ditandatangani oleh Direktur.

11. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan. 

 

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa

Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial

Dasar-Dasar Ilmu Pemerintahan

12. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

 

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.

13. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang digunakan dengan nama diri. 

 

Misalnya:

Dr.

doktor 

S.E.

sarjana ekonomi 

S.H.

sarjana hukum 

S.S.

sarjana sastra

S.Kp.

sarjana keperawatan 

M.A.

master of arts

M.Hum.

magister humaniora 

Prof.

profesor 

K.H.

kiai haji 

Tn.

tuan 

 

Ny.

nyonya 

Sdr.

saudara 

 

Catatan:

Gelar akademik dan sebutan lulusan perguruan tinggi, termasuk singkatannya, diatur secara khusus dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993.

14. 

a. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

   

Misalnya:

Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”

Besok Paman akan datang.

Surat Saudara sudah saya terima.

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.

“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.

 

b. 

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.

   

Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.

Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

15. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.

 

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

Siapa nama Anda?

Surat Anda telah kami terima dengan baik.

16. 

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu. (Lihat contoh pada I B, I C, I E, dan II F15).

G. Huruf Miring

1. 

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.

 

Misalnya:

Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.

Majalah Bahasa dan Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.

Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.

 

Catatan:

Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

2. 

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.

 

Misalnya:

Huruf pertama kata abad adalah a.

Dia bukan menipu, melainkan ditipu.

Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.

 

Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan berlepas tangan.

3. 

a. 

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.

   

Misalnya:

Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.

Orang tua harus bersikap tut wuri handayani terhadap anak.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Weltanschauung dipadankan dengan ‘pandangan dunia’.

 

b. 

Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia. 

   

Misalnya:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

Korps diplomatik memperoleh perlakuan khusus.

   

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring digarisbawahi. 

H. Huruf Tebal

1. 

Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

 

Misalnya:

Judul 

 : 

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Bab 

 : 

BAB I PENDAHULUAN

Bagian bab 

 : 

1.1 Latar Belakang Masalah

   

1.2 Tujuan

Daftar, indeks, dan lampiran: 

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR LAMBANG

DAFTAR PUSTAKA

INDEKS

LAMPIRAN

2. 

Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf miring. 

 

Misalnya:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

 

Seharusnya ditulis dengan huruf miring:

Akhiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.

Saya tidak mengambil bukumu.

Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.

3. 

Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

 

Misalnya:

kalah v 1 tidak menang …; 2 kehilangan atau merugi …; 3 tidak lulus …; 4 tidak menyamai

mengalah v mengaku kalah

 

  

mengalahkan v 1 menjadikan kalah …; 2 menaklukkan …; 3 menganggap kalah …

terkalahkan v dapat dikalahkan …

 

Catatan:

Dalam tulisan tangan atau ketikan manual, huruf atau kata yang akan dicetak dengan huruf tebal diberi garis bawah ganda. 

 

 

 

 

 

 

 

PPDB KMS

Posted: June 5, 2012 in Uncategorized

Alur PPDB Pemegang KMS dapat dilihat di sini

 

  • Pengertian

    Kata resensi diserap dari bahasa Belanda ‘resentie’. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata resensi berarti tinjauan . Di dalam bahasa Inggris terdapat istilah review yang berarti tinjauan pula. Istilah book review berarti tinjauan buku, film review berarti tinjauan film.

    Makna gramatikal tinjauan adalah hasil dari kegiatan meninjau. Kata meninjau berarti melihat, mengamati, memeriksa, dan menimbang. Hasil peninjauan terhadap suatu objek secara garis besar ada dua, yakni yang bersifat positif dan negatif, atau ada kelebihan dan kekurangan.

    Dalam berbagai tulisan, sering digunakan istilah timbangan buku, bedah buku, atau khasanah dunia pustaka ( versi TVRI Yogyakarta). Pada hakikatnya istilah-istilah itu artinya sama, yakni mengamati, memeriksa, atau meneliti dan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan buku sehingga pembaca mendapatkan wawasan tentang sebuah buku dari pakar yang berkompeten. Pada akhirnya, seorang pembaca resensi mempunyai keinginan untuk memiliki buku tersebut.

     

  • Unsur-unsur Resensi

    Secara garis besar, resensi buku, khususnya kumpulan cerpen, berisi tentang jati diri buku yang mencakup judul, sampul, pengarang, penerbit, tahun penerbitan, jumlah halaman, ilustrasi, dan cetakan. Selain itu, juga berisi gambaran isi buku. Resensi kumpulan cerpen berisi sinopsis cerpen di dalam kumpulan buku tersebut. Dalam hal isi inilah penulis resensi memberikan pertimbangan kepada pembaca tentang cerpen yang memiliki keunggulan dan kelemahan serta letak keunggulan dan kelemahannya. Ini bukan berarti semua cerpen dosoroti. Biasanya seorang peresensi hanya akan menyoroti secara rinci bagian yang dianggap menonjol saja.

     

  • Cermati contoh resensi berikut ini!

     

    Bertokoh Binatang, Tapi Bukan Cerita Binatang

     

    Djenar Mahesa Ayu, anak dari sutradara terkenal Indonesia Syumanjaya almarhum ini, lahir di Jakarta 14 Januari 1973. Dia menulis banyak cerpen yang dimuat di berbagai harian terkemuka di Indonesia, Kompas, Republika, Media Indonesia, dan Majalah sastra Horizon, kemudian dikumpulkan dalam antologinya berjudul Mereka Bilang Aku Monyet. Judul yang tampaknya sangat ekstrem. Buku ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, 2003 dengan tebal 136 halaman. Untuk buku kumpulan cerpen sebanyak sebelas buah tidak dapat disebut buku yang tebal. Satu cerpen rata-rata terdiri atas sepuluh halaman. Maka untuk membaca buku ini tidaklah memerlukan tenaga yang berat.

    Mereka Bilang Aku Monyet adalah salah satu cerpen di buku antologi ini selain Lintah, Durian, Melukis Jendela, SMS, Menepis Harapan, Waktu Nayla, Wong Asu, Namanya,.., Asmoro, dan Manusya dan Dia. Ada tokoh-tokoh aneh dalam cerpen ini manusia berkaki empat, berekor anjing, babi, dan kerbau. Berbulu serigala, landak, atau harimau, berkepala ular, banteng, atau keledai. Caranya mereka makan di meja makan, caranya berbicara sangat sopan. Bahkan mereka juga gemar membaca buku, menulis catatan, bergaun, berdasi. Katanya dia juga punya perasaan dan akal, melebihi akal manusia. Hal ini mengingatkan cerita binatang masa lalu. Namun, gaya hidupnya sangat modern. Mungkin juga pikiran kita terbayang pada film kartun di televisi. Cerpen semacam ini tentu tidak bisa dimasukkan dalam bentuk cerita lama atau cerita binatang yang sangat konvesional. Cara mereka berpikir, berbicara, bersikap, dan memiliki kegemaran melebihi manusia-manusia normal. Bahkan mengejek tokoh aku dalam cerpen itu yang konon dikatakan tidak berotak dan tidak berperasaan. Ejekan itulah seolah-oleh menteror perasaan tokoh aku.

    Ada tokoh binatang lain dalam cerpennya, yakni Lintah. Menggambarkan betapa tertekannya seorang gadis remaja gara-gara ibunya memelihara lintah yang sangat dicintainya melebihi cintanya kepada anak gadisnya sendiri itu.

    Cerpen-cerpen lainnya berkisah tentang remaja dengan cintanya, kekurangbahagiannya gara-gara ayah ibunya sibuk, bahkan sampai pelecehan seksual yang berujung pada kesadisan yang luar bisa. Cerpen ini penuh imajinasi. Maka kalau membaca cerpen ini harus mempersiapkan imajinasi kita. Kalau tidak, kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kebingungan.

     

    Penerapan konsep

  1. Setelah membaca contoh di atas, isilah kolom berikut ini !

 

Jatidiri Buku

Jenis buku :

Judul buku :

Pengarang :

Penerbit :

Tahun :

Tebal Buku :

Sinopsis (Ringkasan)

 

 

 


 

Kekurangan

 


 

 

 

 


 

Kelebihan

 

 


 

 

 

  1. Bacalah buku kumpulan cerita pendek kemudian buatlah sebuah resensi!

 

Resensi buku nonfiksi

  1. fisik buku
  2. resume (ringkasan)
  3. kelebihan dan kekurangan

 

Fungsi resensi : menjembatani pembaca dan pengarang

Ujian Nasional merupakan salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan oleh institusi negara untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah mencapai kompetensi yang telah ditetapkan setelah mengikuti proses pembelajaran. Ini berarti sebelum mengikuti ujian, peserta didik telah mengikuti proses pembelajaran mengenai sejumlah materi pelajaran yang diturunkan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar. Agar ujian itu benar-benar mengukur kompetensi, materi atau konsep yang diajarkan dan diujikan harus relevan. Dengan begitu, ujian itu benar-benar mencerminkan kemampuan siswa dalam menguasai sejumlah kompetensi yang telah diajarkan.
Namun demikian, ada beberapa soal Ujian Nasional yang secara substansial tidak jelas konsepnya. Dan sayangnya pula, kebanyakan guru Bahasa Indonesia tidak pernah mempedulikan hal itu. Salah satunya adalah konsep tentang pernyataan dan kesimpulan. Di dalam soal Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2007/2008 ditemukan dua buah soal berdasarkan satu ilustrasi tabel. Dan soal yang semacam itu muncul lagi setiap Ujian Nasional. Soal itu adalah sebagai berikut ini.

Cermati tabel berikut dengan seksama!
KUALIFIKASI TENAGA PENDIDIK INDONESIA

TAHUN 2002/2003

No. Jenjang pendidikan Jumlah
Guru
D1 Ijazah tertinggi
≤ D2 (%) D3 (%) Sarjana S1 (%) S2/S3(%)
1 TK 137069 90,57 5,55 3,88
2 SLB 8304 47,58 5,62 46,35 0,45
3 SD 1234927 49,33 40,14 2,17 8,30 0,05
4 SMP 466748 11,23 21,33 25,10, 42,02 0,31
5 SMA 452265 2,06 1,86 26,37 69,39 0,32
6 SMK 147559 3,54 1,89 30,18 64,16 0,23
7 Perguruan Tinggi 236286 56,54 43,46

17. Pernyataan yang sesuai dengan tabel di atas adalah …

  1. Berdasarkan ijazah tertinggi, tenaga pendidik SMA lebih sedikit yang berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK
  2. Sebagian besar tenaga pendidik sekolah dasar hanya memilki ijazah tertinggi.
  3. Tenaga pendidik SMK berijazah tertinggi D3 lebih sedikit daripada tenaga pendidik pada sekolah dasar.
  4. Berdasarkan persentase ijazah tertinggi, seluruh tenaga pendidik perguruan tinggi berijazah sarjana dan pascasarjana.
  5. e. Berdasarkan jumlah guru, tenaga pendidik SMP lebih sedikit berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK.

18. Simpulan isi tabel tersebut yang tepat adalah ….

  1. Tenaga pendidik pada SMK tidak ada yang memiliki ijazah S3.
  2. Jumlah guru untuk SLB tidak berbeda dengan TK.
  3. Jumlah guru SLTP paling banyak di Indonesia.
  4. Ijazah S3 banyak dimiliki oleh guru SLTP.
  5. e. Tenaga pendidik pada SMA paling banyak memiliki ijazah sarjana.

Untuk soal nomor 17, pernyataan yang sesuai dengan tabel di atas adalah pilihan e. Sedangkan untuk soal nomor 18, simpulan yang paling tepat adalah pilihan e. Artinya, bahwa pilihan e nomor 17 (Berdasarkan jumlah guru, tenaga pendidik SMP lebih sedikit berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK.) adalah sebuah pernyataan, dan pilihan e nomor 18 (Tenaga pendidik pada SMA paling banyak memiliki ijazah sarjana.) adalah sebuah simpulan. Lalu bagaimana apabila soal itu dipertukarkan dengan memindahkan bagian stem-nya? Kita perhatikan perubahan berikut ini.

17b. Pernyataan yang sesuai dengan tabel di atas adalah …

Berdasarkan ijazah tertinggi, tenaga pendidik SMA lebih sedikit yang berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK
a. Sebagian besar tenaga pendidik sekolah dasar hanya memilki ijazah tertinggi.
b. Tenaga pendidik SMK berijazah tertinggi D3 lebih sedikit daripada tenaga pendidik pada sekolah dasar
e. Berdasarkan persentase ijazah tertinggi, seluruh tenaga pendidik perguruan tinggi berijazah sarjana dan pascasarjana.
e. Berdasarkan jumlah guru, tenaga pendidik SMP lebih sedikit berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK.

18b. Simpulan yang sesuai dengan isi tabel tersebut yang tepat adalah ….

a. Tenaga pendidik pada SMK tidak ada yang memiliki ijazah S3.
b. Jumlah guru untuk SLB tidak berbeda dengan TK.
c. Jumlah guru SLTP paling banyak di Indonesia.
d. Ijazah S3 banyak dimiliki oleh guru SLTP.
e. Tenaga pendidik pada SMA paling banyak memiliki ijazah sarjana.

Setelah dipertukarkan, ternyata jawabannya tetap sama. Untuk soal nomor 17b, jawabannya tetap e. Artinya, bahwa jawaban e adalah sebuah pernyataan dan untuk soal 18b, jawaban e adalah sebuah simpulan. Dengan memperhatikan soal nomor 17 dan 17b serta 18 dan 18b, dapat ditarik simpulan bahwa

  • kalimat Berdasarkan jumlah guru, tenaga pendidik SMP lebih sedikit berijazah sarjana daripada tenaga pendidik SMK. adalah sebuah simpulan dan juga pernyataan
  • kalimat Tenaga pendidik pada SMA paling banyak memiliki ijazah sarjana adalah sebuah pernyataan dan juga sebuah simpulan

Sekarang kita bandingkan dengan soal mata pelajaran Biologi berikut ini!

  1. Berikut ini yang termasuk avertebrata adalah ….

a. biawak
b. burung
c. paus
d. cacing
e. ular

  1. Berikut ini yang termasuk mamalia adalah …..

a.biawak
b. burung
c. paus
d. cacing
e. ular

Bagaimana bila stem-nya dipertukarkan? Kita perhatikan perubahannya.
1b. Berikut ini yang termasuk mamalia adalah …

a. biawak
b. burung
c. paus
d. cacing
e. ular

2b. Berikut ini yang termasuk avertebrata adalah …..
a. biawak
b. burung
c. paus
d. cacing
e. ular

Di dalam soal mata pelajaran Biologi di atas, dapat ditarik simpulan bahwa cacing adalah avertebrata, dan paus adalah mamalia. Setelah stem-nya dipertukarkan, jawaban soal 1b bukan lagi cacing melainkan mamalia. Sedangkan jawaban soal 2b bukan lagi paus, melainkan cacing. Dengan kata lain cacing bukan mamalia dan avertebrata, demikian juga paus itu bukan mamalia dan avertebrata. Jadi, pengertian mamalia dan avertebrata itu berbeda. Dengan demikian, siswa tidak lagi bingung dalam mengidentifikasi binatang yang disebut avertebrata dan mamalia.
Berkaitan dengan soal Bahasa Indonesia di atas, sebenarnya soal itu tidak salah dan jawabannya pun juga benar. Sebab, ada pernyataan yang sesuai dengan tabel. Yang menjadi masalah dan juga menjadi pertanyaan dari sejumlah siswa di sekolah adalah lalu apa yang dimaksud dengan pernyataan dan simpulan itu. Apakah kedua istilah itu punya pengertian yang sama. Kalau keduanya sama, mengapa harus ada dua soal yang semacam itu. Lalu bagaimana mengidentifikasi kedua hal tersebut.
Berdasarkan kenyataan tersebut kiranya perlu ditelusuri pengertian pernyataan dan simpulan berdasarkan beberapa referensi sehingga kedua kata tersebut jelas benar pengertian. Dengan begitu, seorang guru dapat memberikan penjelasan kepada siswanya secara tepat dan tidak menimbulkan kerancuan pada kedua istilah tersebut.

Pengertian pernyataan
Secara gramatikal, kata pernyataan bermakna hasil menyatakan atau hal menyatakan; tindakan menyatakan. Segala sesuatu yang dinyatakan adalah sebuah pernyataan. Ikrar yang dibacakan oleh Bung Karno bahwa Indonesia sesudah merdeka adalah sebuah pernyataan. Gorys Keraf (1985) membuat ilustrasi tentang terjadinya kecelakaan.

  • “Tadi terjadi sebuah tabrakan di depan universitas” merupakan sebuah proposisi yang bersifat pernyataan faktual yaitu sebuah pernyataan yang menyangkut fakta. Tetapi bila informasi tadi dilanjutkan dengan mengatakan, “ Sopir yang melakukan kesalahan karena tiba-tiba menghentikan kendaraannya” proposisi itu merupakan suatu kesimpulan atau pendapat karena pembicara menyampaikan pernyataan itu dengan bertolak dari beberapa fakta untuk sampai kepada pernyataan yang baru itu.

Dari ilustrasi tersebut dapat diambil beberapa pengertian di antaranya bahwa pernyataan itu dapat bersifat faktual atau pernyataan faktual. Selain itu, pernyataan itu dapat merupakan sebuah kesimpulan. Dengan kata lain, dikenal istilah pernyataan simpulan.
Lebih lanjut lagi, Gorys Keraf ( 1985) menyatakan bahwa

  • … Proposisi dapat dibatasi sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di dalamnya. Sebuah pernyataan dapat dibenarkan bila terdapat bahan-bahan atau fakta-fakta untuk membuktikannya. Sebaliknya, sebuah pernyataan atau proposisi dapat disangkal atau ditolak bila terdapat fakta-fakta yang menentangnya. ( Keraf, 1985: 5)
  • Proposisi selalu berbentuk kalimat, tetapi tidak semua kalimat adalah proposisi. Hanya kalimat deklaratif yang mengandung proposisi karena hanya kalimat semacam itulah yang dapat dibuktikan atau disangkal kebenarannya. …. ( Keraf, 1985: 5)

Pengertian yang dapat diambil dari kutipan di atas di antaranya

  • Proposisi itu adalah pernyataan, dan pernyataan itu dapat diterima dan ditolak kebenarannya.
  • Proposisi yang berarti pula sebuah pernyataan itu berupa kalimat deklaratif. Kalimat introgratif dan imperatif tidak dapat disebut sebagai pernyataan

Pengertian simpulan
Secara gramatikal simpulan bermakna hasil menyimpulkan (Hasan Alwi:2001). Dan kenyataannya kalimat simpulan itu pasti berupa kalimat deklaratif. Sedangkan Gorys Keraf melalui penjelasannya tentang penalaran menyatakan bahwa untuk menuju kepada simpulan harus melalui tindakan menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi. Dengan kata lain, simpulan merupakan hasil dari kegiatan menghubung-hubungkan fakta-fakta.

  • Penalaran ( reasoning, jalan pikiran ) adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan. ( Keraf, 1985: 5)
  • Inferensi adalah kesimpulan yang diturunkan dari apa yang ada atau dari fakta-fakta yang ada. ( Keraf, 1985: 5)

Berkaitan dengan masalah simpulan, dari pendapat di atas dapat diambil beberapa pengertian, di antaranya
Untuk sampai pada simpulan harus menghubungkan fakta-fakta yang ada. Berarti fakta dan simpulan adalah dua hal yang berbeda.
Pernyataan yang merupakan hasil dari menghubungkan fakta-fakta itu adalah sebuah simpulan.
Simpulan, yang disamakan dengan inferensi, diturunkan dari apa yang ada. Dan yang ada itu adalah fakta.
Dari paparan pengertian pernyataan dan simpulan di atas, dapat ditemukan hubungan pengertian kedua istilah tersebut, yakni, bahwa pernyataan itu dapat menyangkut hal yang faktual , sedangkan simpulan itu adalah pernyataan hasil dari menghubungkan hal faktual. Hal ini berarti simpulan itu adalah pernyataan, tetapi pernyataan itu tidak mesti berupa simpulan. Dengan kata lain, pernyataan dan simpulan itu adalah dua hal yang berbeda.

Alternatif Soal
Dengan demikian, kedua soal di atas sebenarnya menanyakan hal yang sama, yakni, pernyataan yang berupa simpulan. Sebab, dari semua pilihan jawaban, tidak ditemukan pernyataan yang bersifat faktual. Semua pernyataan merupakan hasil dari proses menghubungkan beberapa fakta yang terdapat di dalam tabel. Oleh karena itu, apabila yang ditanyakan adalah simpulan, pernyataan soalnya adalah Simpulan yang sesuai dengan tabel di atas adalah … . Semua pilihan jawaban berupa simpulan namun yang sesuai dengan tabel hanya satu pilihan atau salah satu pilihan jawabannya berupa simpulan sedangkan lainnya berupa fakta.. Soal lainnya yang berdasarkan tabel, dapat menanyakan pernyataan faktual yang sesuai tabel sehingga pilihannya berupa kalimat faktual yang sesuai dengan isi tabel tersebut. Berikut ini contoh soal yang dapat menjadi alternatif.

17. Pernyataan faktual yang sesuai dengan tabel di atas adalah ….
a. Jumlah tenaga pendidik SMA yang berijazah tertinggi ada 1,86 persen.
b. Jumlah tenaga pendidik Indonesia tahun 2002/2003 yang berijazah sarjana ada 236.286.
c. Jumlah tenaga pendidik lulusan SMA tahun 2002/2003 ada 452.265 orang .
d. Tenaga pendidik Indonesia yang ada di perguruan tinggi 236.286 orang.
e. Jumlah sarjana perguruan tinggi yang mengajar SMA ada 69, 39 persen.

18. Berdasarkan tabel di atas, berikut ini yang merupakan pernyataan faktual… .
a. Tenaga pendidik TK paling banyak berpendidikan D1.
b. Tenaga pendidik perguruan tinggi tidak ada yang berpendidikan D1, D2, dan D3.
c. Jumlah tenaga pendidik terbanyak adalah tenaga pendidik jenjang pendidikan SD.
d. Jumlah tenaga pendidik terbanyak kedua adalah tenaga pendidik jenjang pendidikan SMP.
e. Persentase tenaga pendidik S1 untuk jenjang pendidikan SLB lebih tinggi daripada jenjang pendidikan SMP.

Kedua soal di atas memiliki perbedaan. Pengertian soal nomor 17 adalah bahwa yang ditanyakan adalah pernyataan faktual yang sesuai tabel. Dengan demikian, semua pilihan adalah pernyataan faktual. Namun, yang menjadi jawabannya adalah hanya yang sesuai dengan tabel. Yang lainnya juga merupakan pertanyaan faktual, namun tidak sesuai dengan isi tabel.

Sedangkan maksud dari soal nomor 18 adalah bahwa semua pilihan berupa pernyataan, namun yang menjadi jawabannya hanyalah yang faktual. Dengan demikian, pilihan lainnya bukan merupakan pernyataan faktual.

19. Berdasarkan tabel di atas, pernyataan berikut yang merupakan simpulan adalah … .
a. Ada 236286 tenaga pendidik pada jenjang pendidikan perguruan tinggi.
b. Persentase tenaga pendidik S1 untuk jenjang pendidikan SLB lebih tinggi daripada jenjang pendidikan SMP.
c. Pada tahun ajaran 2002/2003 ada 1234927 guru yang mengajar di jenjang pendidikan SD.
d. Sebanyak 0,31% tenaga pendidik jenjang pendidikan SMP berijazah S2/S3.
e. Sebanyak 69,39% tenaga pendidik SMP berpendidikan S1.

20. Simpulan berikut ini yang sesuai dengan isi table di atas adalah … .
a. Guru berpendidikan D1 paling banyak mengajar di jenjang pendidikan SD.
b. Persentase tertinggi tenaga pendidik mengajar di jenjang pendidikan SD.
c. Di jenjang pendidikan sarjana persentase tertinggi adalah pendidikan SMA.
d. Persentase paling rendah untuk tenaga pendidik adalah jenjang pendidikan TK.
e. Di jenjang pendidikan TK tenaga pendidik didominasi oleh lulusan D1.

Maksud dari soal nomor 19 adalah bahwa yang dijadikan jawaban merupakan pernyataan simpulan. Sedangkan lainnya merupakan pernyataan faktual. Sedangkan soal nomor 20 mempunyai pengertian bahwa jawaban dari soal itu adalah pernyataan simpulan yang sesuai tabel. Pernyataan lainnya juga berupa simpulan, namun tidak sesuai dengan isi tabel.

Dari uraian di atas kiranya jelas bahwa istilah pernyataan dan simpulan adalah berbeda. Pernyataan mencakup hal bersifat faktual (pernyataan faktual) dan hal yang berupa simpulan. Sedangkan simpulan adalah hasil proses berpikir melalui menafsirkan, menilai, atau menghubungkan sejumlah fakta. Secara sederhana, simpulan adalah pernyataan, namun pernyataan tidak mesti berupa simpulan. Pernyataan bisa pula berupa ungkapan yang faktual.
Kiranya ulasan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat soal agar mempertimbangkan segi validitas konsepnya. Bagi penulis,membuat soal pilihan ganda memang bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karena, saran yang kami sampaikan kepada lembaga pengujian agar benar-benar memperhatikan kebenaran konsep ilmiahnya sehingga tidak menimbulkan kebingungan kepada para pemegang ujung tombak pendidikan. Kiranya prosedur penulisan soal, dari penulisan SKL, sampai kisi-kisi dan perakitan soal serta proses editing harus dilalui secara sungguh-sungguh. Kalau perlu melibatkan lembaga lain yang kompeten terhadap Bahasa Indonesia. Koreksi dari pihak lain kiranya lebih efektif sehingga lahir soal yang bertaraf nasional yang validitasnya terjamin.

Subadiyana
Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia
SMA Negeri 1 Yogyakarta

Santriwan Santriwati, hasil analogi yang logis?

Keberadaan Bahasa Indonesia, sebenarnya, tidak bias lepas dari sokongan bahasa lain yang mempunyai keeratan hubungan budaya. Imbuhan –wan, -wati, dan –man merupakan imbuhan sokongan dari bahasa Sanskrta. Di dalam perkembangannya, di dalam bahasa Indonesia, imbuhan –wan/-wati lebih produktif dibandingkan dengan man. Imbuhan wan dan wati digunakan dalam kata seperti budayawan, karyawan, olahragawan, pirsawan, karyawati, wartawati. Sedangkan imbuhan -man masih tetap terbatas pada kata seniman dan budiman.

Karena produktivitas yang tinggi itu, lahirlah bentuk-bentuk baru yang dihasilkan melalui penalaran analogis, seperti santriwan dan satriwati. Melekatnya sebuah imbuhan pada sebuah kata pastilah mempunyai fungsi dan makna tertentu. Namun demikian, benarkan imbuhan –wan/-wati yang melekat pada bentuk santriwan dan santriwati itu mempunyai fungsi dan makna yang beranalogi yang sempurna terhadap bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya?

Untuk itulah perlu ditelusuri dengan menganalisis bentuk kata yang berimbuhan –wan/-wati yang telah ada sebelumnya, seperti, kata wartawan.

Kata wartawan berasal dari kata warta dan imbuhan -wan. Kata warta termasuk jenis kata benda biasa. Setelah mendapatkan imbuhan -wan akan mengalami perubahan seperti berikut ini.

  1. Penambahan –wan berakibat kata benda biasa itu berubah menjadi kata benda persona, atau menyatakan orang. Wartawan artinya orang yang melakukan pekerjaan mencari warta.
  2. Kata benda persona itu, wartawan, menyatakan bahwa persona yang dimaksud berjender maskulin (laki-laki)
  3. Orang laki-laki yang memiliki pekerjaan mencari warta yang dimaksudkan bukan hanya setiap orang yang mencari warta, melainkan orang yang berprofesi mencari warta. Tidak semua orang yang mencari warta dapat disebut wartawan

Uraian di atas dapat diskemakan seperti berikut ini.

Orang laki-laki yang berprofesi mencari warta

Demikian juga dengan wartawati.

Lalu bagaimana dengan kata santriwan dan santriwati? Proses pembentukan katanya sama dengan dengan kata wartawan dan wartawati. Kata santriwan berasal dari kata santri dan imbuhan –­wan, kata santriwati berasal dari kata santri dan imbuhan –wati. Perubahan yang terjadi setelah melekatnya imbuhan –wan dan –wati pada kata santri dapat dijelaskan sebagai berikut ini. Kata benda itu menyatakan persona atau orang.

Hello world!

Posted: March 3, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!